|
JAVA TATTOO CLUB INDONESIA Copyright © 2003 JTCI. All rights reserved |
|
|
Tatto, Preman bertato, Petrus dan Kriminalitas, di Indonesia
Kumpulan kliping ini di tulis sesuai dengan apa yang tercetak di media massa, karena banyak berita mengenai tattoo dan keterkaitannya dengan dunia hitam. Dokumentasi ini dimaksudkan untuk sumber penelitian dan pengembangan seni tattoo Indonesia modern. Beberapa artikel langsung bisa diakses on-line, tergantung server, karena kadang2 banyak server yang sudah kadaluwarsa-expired atau mereka terlalu pelit untuk sharing informasi data, untuk menghindari hal tersebut maka kami ketik ulang artikel tersebut seperti dibawah ini dan diurutkan sesuai dengan kronologi waktu dan klasifikasi, selamat membaca dan juga silahkan meng-copy materi2 ini sepanjang untuk tujuan yang mulia.

Editor
menerima sumbangan artikel, informasi atau apapun yang berhubungan dgn
topik di halaman ini, kirimkan
via email ke:
javatattooclub@hotmail.com
Tanda NEW berarti artikel/kliping berita tersebut baru dimasukan ke page ini.
Mat Toreh @ editor. Dec 2001
atas - Preman yang tertangkap karena tindak kejahatan di Semarang
kanan - Buku Tatttoo >> Prison Tattoo by Douglas Kent Hall, publisher St.Martin's Griffin 1997
|
TATTO BUKAN KRIMINALITAS Kamis, 23 Januari 2003 http://www.royromero2002.i-p.com/article/tatto.htm Aku memang bukan orang yang bertatto, tetapi aku nggak risih berada di samping orang bertatto. Kaum awam mengatakan, ngapain sih mereka harus menggambar tubuh-tubuhnya dengan binatang, lingkaran, atau lainnya. Apa mereka nggak suka dengan pemberian Tuhan? Setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda, tergantung dari segi mana orang itu memandangnya. Yang aku risih, mengenai pemberitaan-pemberitaan kriminalitas di 2 stasiun televisi, antara lain BUSER di SCTV dan PATROLI di INDOSIAR, yang mengekspose Operasi Sadar Jaya di Jakarta. Operasi ini memang bagus, tapi mungkin caranya terlalu berlebihan. Di hari-hari awal Operasi Sadar Jaya ini aku lihat mereka ingin menangkap orang-orang yang kerap merugikan orang lain, bisa jadi itu pemalak, pemabuk, perjudian, PSK, pengedar dan pemakai narkoba, serta orang-orang yang tidak memiliki kartu identitas penduduk. Bagus, itu semua bagus, namun sayangnya, pemberantasan koq juga malah udah melebar untuk mengurung orang-orang yang bertato. Padahal jelas belum tentu orang yang bertato adalah orang yang kriminalitas, bisa jadi ia memang seorang seniman. Berarti sama dengan menangkap seniman-seniman yang melukis di tubuh. Siapa yang tidak kenal Jhodie, yang jelas-jelas memiliki toko tato atau di bule dikenal dengan paint shop. Beberapa artis tubuhnya juga didandani dengan bor-bor kecil di toko tersebut. Lalu apakah artis-artis tersebut adalah preman? Tatto memang mempunyai 2 mata, satu yang berupa seni (art) dan yang lainnya emank bentuk kriminalitas sebagai ajang pamer dalam memberikan mental war pada calon korban. Sebagai penjabaran akhir, semua balik ke kalian semua, tapi yang jelas menurut aku, Tatto bukanlah bentuk kriminalitas. [royromero] |
| Foto Penjahat | tattoo is not a crime | JAVA TATTOO CLUB |
posting di liputan6.com
| 6475 | 628128500xxx | Hati2 copet di angkot biru jurusan cikampek karawang,mgkn 2-3 orang,orang nya membawa ransel besar ciri2nya,kulit putih yg 1 orang ada th la2t tato di dagu. | 22-01-2003 | 11:48:33 |
| 628122772xxx | Maaf, tatto bukanlah kejahatan, jadi tolong jangan selalu diekspose/ dihubung2kan dalam setiap kriminalitas, kenapa harus seperti itu? bagaimana dg pembuatnya? | 26-11-2002 | 12:15:36 |
| 628129387xxx | Hapuskan diskriminasi tatto,yg jahat bkn tatto, tapi individunya | 23-11-2002 | 11:46:52 |
| 628128519xxx | Pengamen2 bulak kapal bekasi sangat meresahkan krn meminta dg paksa dg menunjukan tato di badan. | 18-01-2003 | 11:37:44 |
Hadiah Terindah Dari Tuhan
Sumber Kesaksian: James Cellosse No.Tape:
162
CBNI
- Sejak kecil saya menyukai
musik, khususnya musik rock. Saya sangat ingin menjadi orang yang terkenal dan
disukai banyak orang. Setelah saya duduk di bangku SMA, saya mulai berganbung
dengan satu kelompok entertainment. Saya menghibur orang dengan musik dan musik
kemudian menjadi bagian terpenting dalam kehidupan saya.
Namun karena pergaulan saya dengan teman-teman yang preman, dengan sendirinya
kehidupan saya menjadi terpengaruh. Saya dulunya tidak
pernah bertato, tapi ketika saya bergaul dengan preman maka saya akhirnya
mempunyai tato. Mereka mengatakan jika saya tidak bertato, jika saya
tidak ikut minum atau memakai obat bersama mereka maka saya tidak dapat menjadi
sahabat mereka.
http://www.cbn.or.id/kisah/detail.asp?kat=Keluarga&kode=241
No. 008 TH KE - 2 - APRIL 2001 wacana
Perlilaku ala free man yang kian subur dalam
kerasnya atmosfer Ibukota Jakarta ini, terkadang menyeret mereka pada tindak
kejahatan, seperti pemalakan, pemerasan, atau bahkan “penodongan terbuka”.
Setiap saat dan terus menerus. Sasaran aksi yang meresahkan itu umumnya dialami
pedagang ( kaki lima). Komunitas free man serta aktivitasnya seperti
terorganisir. Dilengkapi dengan tampilan berwajah garang dan seram, dan
terkadang juga disempurnakan dengan ornamen tato pada kulit tubuhnya. Sehingga
fenomena free man- karena lekuk lidah yang lebih suka pada penggampangan
ucapan, kemudian menjadi preman – menjadi semacam impresi bagi masyarakat di
sekitarnya.
Minggu, 02 Februari 2003 sriwijaya post
REMAJA kita memang rawan menjadi korban mode, baik yang disajikan media cetak
atau elektronik. Lihat saja misalnya di kalangan remaja putri, karena
tergila-gila dan mengidolakan sosok San Cai --seorang gadis yang menjadi
kekasihnya Tao ming She -- yang main di sinetron Meteor Garden yang ditayangkan
salah satu TV swasta, mereka ikut-ikut mengenakan tato pada pundak dan tangan,
seperti yang ada pada diri San Cai. Di Kota Palembang, para remaja putri pun
tidak mau ketinggalan dan ikut-ikutan merajah atau menato dirinya karena hanya
ingin mengikuti tren. Semuanya menjadi mudah, karena adanya tatto yang sifatnya
tidak permanen alias bertahan tidak lebih dari dua minggu saja.
KALAU dipakai di tempat yang tersembunyi, bukan tato namanya. Orang yang suka
menghias dirinya dengan tato selalu ditonjolkan dan dipamerkan dengan tujuan
yang beragam. Ada yang ingin tampil gagah tetapi ada juga yang hanya ikut-ikutan
biar terlihat keren.
Melani (17) salah pelajar di kawasan Lemabang misalnya, ia mengaku ikut menato
dirinya khususnya di tangan agar tampil beda dengan pelajar lainnya. Sedangkan
rekannya yang lain memasang tato di leher bagian bekalang seperti halnya San Cai.
“Ini tidak hanya permanen. Paling tiga minggu hilang,” jelas Mel, begitu teman
sekalasnya menyapa. Ia pun mengaku tidak ada masalah dan kendala memasang tato
di leher dan tangan, termasuk teguran dari orangtuanya. “Kalau permanen, kan
sulit hilang tapi ini hanya tempelan saja,” ujarnya.
Di Palembang, ada banyak tempat untuk membuat tato seperti di Jln Bangau, Jln
Letkol Iskandar dan Kampus Blok D Jln Bidar serta di beberapa tempat lain yang
melayani berbagai macam jenis tato. Dan harganya pun bervariatif.
Tato ada dua macam yaitu flash dan custom. Flash merupakan tato favorit yang
banyak dipilih dan gambarnya juga sangat familiar dengan kita seperti naga, hati
dan jangkar. Sedangkan custom merupakan tato yang dibuat berdasarkan keinginan/ide
pihak yang bersangkutan. “Kalau mau aman, lebih baik bikin tato itu kepada yang
ahlinya karena lebih sempurna dan risikonya kecil,” jelas Riduan (30) yang
memasang tato permanen di tubuhnya.
Menurutnya, tidak kurang penting, orang harus yakin bahwa tato itu aman atau
tidak akan membuat infeksi. Caranya, jangan menggunakan alat sembarangan,
apalagi tanpa mensterilkannya lebih dulu karenanya tidaklah salah membuang
sedikit uang sebagai pembayar ahli tato karena salah sedikit malahan bisa
kehilangan anggota tubuh.
Namun, kalau takut berisiko atau cepat bosan atau hanya ikut-ikutan mode artis
di film dan hanya untuk keperluan bergaya, lebih baik pilih tato yang tidak
permanen. Misalnya tato yang bisa tahan seminggu. Selain lebih aman, juga bebas
menyesuaikannya dalam berbagai kesempatan.
Kesalahan
Harus diakui, demam tato tidak hanya terjadi di kalangan ABG saja tetapi ada
juga melanda para eksekutif. Imej tato yang lekat dengan penjahat dan preman,
tampaknya mulai terkikis. Bahkan tubuh yang bertato, diyakini punya nilai tambah.
Hingga tak jarang, eksekutif sengaja menggunakan pakaian yang memungkinkannya
memamerkan tato di bagian tubuhnya.
Kesalahan klasik yang dilakukan orang yang menato adalah menuliskan nama kekasih
di tubuhnya. Memang mungkin saat itu hubungan cinta sedang indah-indahnya. Tapi
pernahkah dibayangkan kalau semuanya ternyata harus berakhir. Bahkan, untuk
mengingatnya pun malas. Padahal tato sudah telanjur dipasang yang permanen
sifatnya. Akibatnya, Anda kebingungan mencari cara menghilangkannya.
Untuk menghindari hal tersebut, jika ingin menato tubuh, pastikan bahwa kata
atau lambang itu besar artinya bagi Anda. Memang tidak mudah dan butuh waktu
untuk memikirkannya.
“Apa pun alasannya, tato itu sangat tidak baik. Bagi orang yang tidak memiliki
uang, mau buang tato terpaksa memakai setrika panas agar kulitnya hangus dan
tato hilang. Jadi sangat tidak ada gunanya,” jelas Ketua Badan Kerjasama
Organisasi Wanita (BKOW) Sumsel, Ny Hj Irawati Thobroni.
“Sekali lagi, tolong pikir dua kali jika mau pasang tato khusus bagi anak-anak
pelajar,” tambahnya. ***(Oleh Muhammad Husein)
Uang Pengungsi Disunat Jumat, 24 Januari 2003 kompas
Untuk merampok setidaknya diperlukan "bekal" senjata, nyali besar, ditambah wajah garang nan mengancam. Akan tetapi, ini hanya dengan bermodalkan seragam dinas rapi, uang Rp 10 juta "terbang melayang" tepat di muka kantor bank.
Jadi, tidak perlu tampang seram dan penuh tato untuk bisa jadi preman. Berseragam dinas rapi pun boleh lah. Keterlaluan kalau Pemerintah Kabupaten Kediri tidak mengusut kasus ini karena kalau dibiarkan akan menjadi preseden buruk di masa datang.
Kita menyarankan agar petugas yang "merampok" uang pengungsi itu diberi sanksi berat, bahkan kalau perlu dipecat sesuai dengan ketentuan pegawai negeri sipil (PNS). Kalau ini dibiarkan, dikhawatirkan akan terjadi akumulasi kekecewaan dari masyarakat yang pada akhirnya terjadi kemarahan massal.
TEKAD BERANTAS PREMAN HARUS "ACTION" wacana -No. 008 TH KE - 2 - APRIL 2001
Kebebasan
acapkali memang berbatas tipis dengan keterlanjuran. Dan karena kebebasan pula
sering membuat seseorang tergelincir, bahkan terperosok jauh pada pelimbahan
nista atau kejurang sesat. Pergaulan bebas misalnya, berakibat buruk pada
perilaku dan tak lagi menghiraukan nilai-nilai moral maupun etika-etika
kemasyarakatan. Ujung dari kebebasan sebenarnya tak akan pernah kita jumpai.
Jikalau seseorang menemukan, barangkali ia akan melupakan hirarki
kemanusiawiannya. Dan inilah yang akhirnya mencemaskan orang lain atau
masyarakat pada umumnya.
Perlilaku ala free man
yang kian subur dalam kerasnya atmosfer Ibukota Jakarta ini, terkadang menyeret
mereka pada tindak kejahatan, seperti pemalakan, pemerasan, atau bahkan
“penodongan terbuka”. Setiap saat dan terus menerus. Sasaran aksi yang
meresahkan itu umumnya dialami pedagang ( kaki lima). Komunitas free man
serta aktivitasnya seperti terorganisir. Dilengkapi dengan
tampilan berwajah garang dan seram, dan terkadang juga disempurnakan dengan
ornamen tato pada kulit tubuhnya. Sehingga fenomena free man-
karena lekuk lidah yang lebih suka pada penggampangan ucapan, kemudian menjadi
preman – menjadi semacam impresi bagi masyarakat di sekitarnya.
berita baru:
Selidiki Mutilasi, Polisi Disebar ke Tukang Tato Sabtu, 18 Januari 2003 Kompas
Jakarta - Sejumlah polisi kini disebar untuk menanyai tukang-tukang tato di Jakarta Timur guna mengungkap tabir kasus pembunuhan dengan mayat dipotong-potong (mutilasi). Langkah tersebut dilakukan berkaitan dengan adanya tato bergambar hati dan tulisan "CA" di antara ibu jari dan telunjuk tangan kiri mayat korban mutilasi.
"Hingga sore ini belum ada satu pun keluarga yang memastikan bahwa korban adalah saudara mereka," kata Kepala Satuan Reserse (Satserse) Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Timur Komisaris Tornagogo Sihombing, Jumat (17/1) sore. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah menelusuri jati diri korban dari bagian tubuh yang ada.
Ia berharap ada informasi dari tukang tato soal kapan ia menato korban atau pembicaraan apa yang sempat mereka percakapkan. "Siapa tahu CA itu semacam geng. Sekecil apapun infonya akan sangat berarti untuk mengungkap pembunuhan sadis ini," ujarnya. Sihombing menduga, tempat kejadian perkara (TKP) kasus ini adalah di Bekasi mengingat potongan kepala ditemukan di Bantar Gebang, Bekasi, sedangkan potongan badan dan kaki serta tangan di Kali Malang, Jakarta Timur."Aliran sungai, kan, dari Bekasi ke Jakarta. Karena itu, dengan asumsi potongan badan serta kaki dan tangan dialirkan ke sungai, maka sudah pasti akan ditemukan di kawasan timur Jakarta, seperti yang terjadi Rabu dan Kamis lalu," tambah Sihombing. Namun, belum tentu juga TKP berada di Bekasi karena bisa pula si pelaku sengaja mengaburkan TKP. Sehubungan dengan itulah Polres Jakarta Timur terus bertukar informasi dengan Polres Bekasi. Polisi akan serius menyelidiki kasus ini karena tergolong pembunuhan sadis. Selain itu, berkaca pada kasus sejenis di luar negeri, bisa terjadi ada korban bernasib serupa pada waktuwaktu mendatang. "Pengungkapan segera akan mencegah orang lain menjadi korban," kata Sihombing. Sementara itu, dosen Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala berpendapat, kejahatan mutilasi tidak dapat dikaitkan dengan impitan ekonomi akhir-akhir ini. "Dalam studi kriminologi, tidak ada hubungan di antara keduanya. Keterdesakan ekonomi lebih dekat dengan perampokan dan pencurian, untuk menyebut dua contoh kasus," tutur Adrianus.Tidak adanya kaitan antara pembunuhan dan masalah ekonomi tak lain karena sifat pembunuhan mutilasi yang khusus.Menurut Adrianus, mutilasi dilakukan untuk mengaburkan identitas korban sehingga kaitan dengan pelaku makin jauh. Upaya tersebut dilakukan pelaku agar ia dapat segera lari dan menghilangkan jejak. (ADP)
Potongan Tubuh Korban Mutilasi Ditemukan di Tiga Tempat Jumat, 17 Januari 2003 Kompas
Ciri ada tato hati dan tulisan CA di antara ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Adapun tinggi korban sekitar 159 sentimeter. "Kalau dilihat fisiknya, korban bukan buruh kasar," katanya Ditemukannya potongan kepala dan tubuh manusia tak berkepala itu tidak hanya di tempat terpisah. Tapi pada waktu yang berbeda, yakni pada hari Rabu (15/1) dan Kamis (16/1). korban memiliki ciri-ciri hidung pesek, rambut ikal, dari ras mongoloid, gigi seri kedua bagian kiri atas ompong. "Giginya itu memang ompong dan bukan dari hasil kekerasan," katanya.
Keterangan Bambang HP, petugas forensik yang bertugas sebagai asisten dokter, yang ditemui secara terpisah, mengatakan gigi depan korban bagian bawah bertumpuk. Selain itu, ada tatto di tangan kanan korban berbentuk hati. Di bawah tatto berbentuk hati itu, tertulis huruf CA. Pada potongan badan korban ditemukan kaos singlet berukuran 34. Korban diduga memiliki tinggi seikitar 159 sentimeter. Dari kuku dan kaki korban yang bersih, diperkirakan dia bukan pekerja kasar. Belum ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada korban. Sedangkan usia korban diperkirakan antara 20 hingga 35 tahun. Hal ini disebabkan gigi ke delapan korban belum tumbuh.
Posting di situs Pro-Megawati >>
7.4. Preman-preman Tanah Abang cs, dibawah
komandan Hercules,
kelompok ini paling beringas,sadis dan pemerkosa-pemerkosa. Mereka
bertatto dan kejam
__________________________________________________________________________________
>> Dada dan Punggung Bertato Ditemukan di Cirebon
Penemuan
mayat korban mutilasi, berita awal
>> Mayat Terpotong Ditemukan dalam Kantong Plastik
Artikel Ttg Forensik dan Tattoo >>
__________________________________________________________________________________
Jumat, 3 Januari 2003 Suara Merdeka
SOSOK Ngadiyono alias Thole, yang di kalangan polisi dikenal sebagai perampok kelas kakap ternyata seorang lelaki yang romantis. Paling tidak, ini tercermin dari goresan tinta yang tertulis dalam lembar-lembar buku hariannya. Buku tebal yang ditemukan polisi di rumah Ngadiyono itu penuh berisi catatan perjalanan hidup, termasuk saat dia menjalani hidup di balik terali besi LP Kedungpane dan LP Nusakambangan. Beberapa bagian buku itu menceritakan kerinduan mendalam Ngadiyono terhadap istrinya, Tipuk, yang berpisah dengannya beberapa tahun lalu sebelum ia masuk penjara karena kasus pencurian. Rasa rindu itu diungkapkan dengan bahasa yang puitis dan romantis.''Dimanakah dirimu, sayang, aku selalu merindukanmu. Aku berharap kita akan bertemu suatu waktu, setelah aku keluar dari tembok derita ini,''. Itu salah satu kalimat yang ditulis Ngadiyono ketika ia masih mendekam di LP Kedungpane sekitar tahun 2000.Masih banyak lembaran lain yang jugamenggambarkan sisi halus dalam diri pria bertato di hampir sekujur tubuhnya itu. Selain itu, Ngadiyono juga banyak mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya terhadap oknum-oknum aparat penegak hukum, yang memanfaatkan penahanannya demi memperoleh keuntungan pribadi. Namun, Ngadiyono hanya bisa berkeluh kesah tanpa mampu berbuat apa-apa. Dari buku tersebut, diketahui pula bahwa Ngadiyono merupakan sosok yang amat disegani narapidana dan tahanan lain yang menghuni LP Kedungpane. Dia juga dikenal sebagai otak kerusuhan beberapa waktu lalu di tahanan itu. Dia bahkan diakui sebagai pimpinan di antara ratusan penghuni LP. Demikian pula ketika dia dipindahkan ke LP Nusakambangan, dia mendapat perlakuan yang cukup baik dari penghuni lama. Lantas, bagaimana sosok Ngadiyono di mata keluarga dan teman-temannya? Tidak banyak yang bisa diketahui. Pi'i (30), salah seorang adik korban yang ditemui Suara Merdeka di RT 4 RW 5 Gangin Sari II, Bangetayu Wetan, Genuk, mengaku tak mengetahui persis aktivitas sehari-hari kakaknya. Sebab, Ngadiyono amat jarang pulang. Paling banter dia pulang seminggu sekali. Itu pun hanya satu-dua hari di rumah, setelah itu ''menghilang'' lagi entah ke mana. Ngadiyono yang merupakan anak sulung pasangan Sapuan-Fathonah itu juga tidak banyak bercerita mengenai pekerjaan di luar rumah. ''Kalau pulang kadang-kadang dia nyambi melayani orang yang minta gambar atau ditato. '' Beberapa tamu nampak melayat di rumah papan ukuran 5x8 meter itu. Menurut Pi'i, keluarganya sebenarnya bukan asli warga Ganginsari. Orangtuanya berasal dari Jalan Tikung Baru. Mereka pindah ke Gangin Sari, Bangetayu Wetan tahun 1986. (P Heru Subono, Nugroho Dwiadhiseno-45)
Kini
Pemerasan terhadap Sopir Truk Berkurang Drastis
Jumat, 11 Oktober
2002 Pikiran Rakyat
NEW
"Macan Ompong" di Markas Polda
BAGAI macan ompong, begitulah tiga jeger
jalanan yang sudah lama memeras pengusaha angkutan yang tertangkap reserse Unit
Bunuh Culik/Vice Control (Bulik/VC) belum lama ini. Hal itu terlihat saat
wartawan mengerubutinya di Ruang Data Direktorat Reserse Polda Jabar, Kamis
(10/10). Ketiga jagoan jalanan itu adalah Yos (37), Zak (36), dan Vit (23).
Ketiganya ditangkap di Terminal Sadang, Purwakarta, Minggu (6/10) malam oleh
Ajun Komisaris Polisi Zul Azmi dan kawan-kawan dari Unit Bulik/VC. Saat baju
tahanan mereka dibuka petugas memang terlihat ada tato
gambar naga di bagian belakang tubuh mereka. Gambarnya persis sama, namun tato
itu seakan tidak bermakna. Tato itu tidak bisa digunakan untuk menakuti-nakuti
wartawan atau reserse Unit Bulik/VC. .lengkap
>>
Dinginnya Minta Ampun, Apalagi Seharian Belum Diberi Makan (kisah korban kekerasan militer di Aceh) Hari berikutnya lebih sadis. Dengan ujung silet ’’Goal’’, tentara itu merobek kulit di bagian susu (tetek). Mereka bilang akan ditulis (tato) huruf GPK. Saya heran apakah siletnya tumpul atau kulit saya tebal hanya tergores sedikit. Tapi, perihnya minta ampun karena mereka membubuhi dengan cairan. (Ali membuka baju, menunjukkan bekas tatoan itu). lengkap >> http://members.tripod.com/~zxbakri/direndam.html
Dari Tapaktuan, kepada 11 LSM melalui salah seorang aktivisnya, Zalsufran, juga menyatakan protes terhadap pernyataan Presiden yang mengatakan ada kelompok berbaju militer menyetop orang yang memakai jilbab, kemudian jilbabnya dicopot dan rambutnya dipotong. Kemudian di lengan orang-orang berbaju militer itu terdapat tato, sedangkan anggota militer --kata presiden-- tidak dibenarkan bertato. "Dari pernyataannya itu, Presiden Abdurrahman Wahid tidak tahu keadaan sebenarnya di Aceh dan terkesan ngomong semb arangan," kata LSM di Tapaktuan. http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/10/28/0011.html
Tiga Perampok Mobil Ditangkap Rabu, 8 Mei 2002 Kompas Jakarta, Kompas - Tiga dari sembilan anggota komplotan perampok Opel Blazer milik Phoa Hermanto (54) ditangkap Tim VIII Unit Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya, Senin (6/5) siang. Salah seorang yang tertangkap, Ayung alias Fajar, akhirnya tewas akibat luka tembakan polisi. Kepala Satuan Reserse Umum Ajun Komisaris Besar Raja Erizman, Selasa pagi, menjelaskan, Ayung adalah pemimpin komplotan perampok tersebut. Laki-laki yang sekujur tubuhnya penuh tato itu ditembak karena menyerang dan berusaha merampas pistol polisi yang menangkapnya http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0205/08/metro/tiga18.htm
Residivis yang Meresahkan Warga Tewas Ditembak
Kamis, 14 Februari 2002 KompasResidivis kembali ditembak petugas karena melawan saat hendak ditangkap. Kali ini menimpa Haris Budi Santoso (27), warga Rejosari, Semarang yang pernah terlibat enam kali penodongan dan perampokan warga Kota Semarang, Rabu (13/2) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB tewas diterjang peluru petugas reserse Kepolisian Sektor Semarang Tengah. Kepala Polsek Semarang Tengah, Ajun Komisaris Martono menjelaskan, terakhir Haris terlibat perampasan sepeda motor milik warga di sekitar Stadion Diponegoro, Semarang. Haris yang tubuhnya penuh lukisan tato itu, cukup lama menjadi target operasi. Saat dipergoki petugas, tersangka bersembunyi sehingga petugas mengamankan sepeda motornya lebih dulu. Setelah ditunggu lama, tersangka muncul langsung akan ditangkap namun melawan dengan clurit. Petugas terpaksa menghentikan perlawanan dengan tembakan. (who)
KENDAL - Seorang pencuri sepeda motor, Slamet Riyadi (28), penduduk Dukuh Leboh, Desa Bumiayu, Weleri, ditembak aparat Polsek setempat, Selasa (5/11) sekitar pukul 17.00. Pasalnya, laki-laki dengan
tubuh penuh tatto ini mencoba melarikan diri ketika akan ditangkap di rumahnya.
PENODONG PENUMPANG BUS DITANGKAP - Rabu, 28 November 2001 Kompas
Dua pemuda yang sekujur tubuhnya penuh tato, Eman (23) dan Hasan (28), ditangkap polisi saat keduanya menodong Suryadi penumpang Metro Mini S 62, yang melintas di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (27/11) petang. Mereka kini meringkuk di sel tahanan Polsek Metro Tebet. Kepala Polsek Metro Tebet Komisaris Darmawan Sutawijaya, Selasa siang, menuturkan, kedua tersangka memang sudah menjadi incaran jajarannya. Untuk mengatasi penodongan di dalam kendaraan umum, ungkap Darmawan, secara tersamar anggotanya berpatroli di dalam kendaraan umum yang melintas di wilayah Tebet. (rts)
Minggu, 21 Oktober 2001 Kompas
Kakak-Beradik Ditembak Penjahat
Para warga yang gempar tidak sempat mengejar para penjahat itu. Namun tidak lama kemudian, sekitar satu kilometer dari rumah korban, para peronda menangkap seorang laki-laki yang tidak dikenal. Laki-laki yang tubuhnya penuh tato itu mengaku warga Bogor yang kesasar. Akhirnya laki-laki itu diserahkan ke Polsek Metro Cipayung. (rts)
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0110/21/utama/kaka02.htm
Ibu,
Maafkan Anakmu, Aku Menyesal ...
Kamis, 18
Juli 2002, 9:26 WIB
Warta Kota Kompas
NEW
Ibu, maafkan
anakmu. Aku menyesal... Begitulah sepenggal tulisan yang tertera pada dada Andi Saputra
(30).
Tulisan berbentuk tato yang biasa menjadi ekspresi karya seni
seseorang
itu bagi Andi mungkin merupakan ungkapan batinnya. Andi adalah pelaku
perampokan nasabah bank yang tewas dalam adu tembak dengan Brimob ketika
merampok nasabah bank di areal SPBU, Jalan Tanah Abang II, Gambir, Selasa (16/7)
sore. (Warta Kota, 17/7) Jasad pria bertubuh gempal itu masih terbujur kaku di
kamar jenazah RSCM hingga Rabu (17/7) malam.
Sekujur tubuhnya memang penuh tato gambar perempuan dan
simbol-simbol berbentuk bintang. Belum ada satu pun keluarganya yang menjenguk.
Entahlah, apakah ungkapan batin dalam tulisan tato itu bisa menggugah keluarga
datang untuk melihat untuk terakhir kali jasadnya. Hanya tampak lima polisi,
baik yang berseragam maupun tidak, berjaga-jaga di sana. Sementara, tanpa
menyia-nyiakan waktu, setelah terjadi perampokan itu polisi langsung menggeledah
rumah Andi Saputra di Jalan Udang I, Kayu Ringin, Bekasi Selatan malam harinya.
Istrinya ada di rumah. Istri Andi Saputra masih dalam pemeriksaan
intensif untuk membongkar jaringan perampok nasabah bank. Belum diketahui persis di mana keberadaan
istrinya sekarang. Hanya saja diperoleh keterangan, istri Andi Saputra adalah
warga setempat. Menurut polisi, rumahnya besar. Andi juga memiliki tanah seluas
1.000 meter persegi. Selain itu, dalam penggeledahan itu juga disita sepucuk
pistol FN lengkap dengan pelurunya. Sebelumnya, dari Andi Saputra yang tewas di
tempat disita dua pucuk pistol merek Browning
lengkap dengan tiga magasen isi 28 butir peluru. Selain dua handphone dan kartu
SIM C miliknya. Dari alamat di kartu SIM itulah polisi langsung menggeledah rumahnya
itu.
Kapolrestro Jakpus Kombes Pol Edmon Ilyas hanya membenarkan penggeledahan itu
menjawab pertanyaan wartawan. Siapakah jati diri Andi sebenarnya? Masih menurut
sumber di kepolisian, nama Andi Saputra
adalah nama samaran dari nama aslinya, yakni Sartono asal Jawa Tengah. Namun,
belum bisa
dipastikan benar. Hanya orang-orang terdekat atau keluarga yang mengetahuinya.
Apalagi
mudah dikenali dari rajah pada dadanya itu. (mir)
Meresahkan warga yang datang berbelanja | Pentolan preman Pasar pagi dibekuk
Sabtu,12/21/2002 9:05:23 AM Pos Kota 20/12/02 NEW
TAMBORA (Pos Kota) - Seorang pemuda yang sekujur tubuhnya penuh tato dan dikenal sebagai pentolan preman di Jalan Toko Tiga, Pasar Pagi, diringkus reserse Polsek Metro Tambora dalam suatu operasi yang digelar Jumat (20/12) sore. Pada operasi tersebut, selain tersangka Agus, 26, pentolan preman asal Malang, Jawa Timur, petugas gabungan juga mengamankan 13 preman lain yang dianggap meresahkan warga di kawasan Jalan Toko Tiga, Pasar Pagi. Operasi preman itu menurut Kapolsek Metro Tambora Kompol Drs Listyo Sigit Prabowo, tidak lain untuk menciptakan rasa aman bagi pengunjung kawasan Pasar Pagi yang akhir-akhir ini mulai ramai dikunjungi orang. Para preman itu kata kapolsek sudah mulai berani, dan jika tak segera dibersihkan akan bermunculan preman-preman lainnya. Para preman itu antara lain mencopet dan ‘tukang geser’ barang. Sebelum beraksi mereka berlagak sebagai juru parkir atau kuli panggul.
Pentolan preman ditangkap Tertangkapnya Agus, sang pentolan preman yang tubuhnya dipenuhi tato memang menjadi target dalam operasi tersebut. Listyo Sigit Prabowo didampingi Kanit Resintel Ipda Pol Wempy Santoso mengatakan, Agus ditangkap karena pada Rabu (18/12) lalu melakukan penganiayaan terhadap wanita pengemudi mobil. Waktu itu tersangka melempar batu mengenai mata kiri Fransisca, 45, warga Setia Budi, Jakarta Selatan. Agus saat itu sebelum menganiaya korban sempat minta uang Rp 2.000. Tapi karena ditolak tersangka marah. “Tersangka waktu itu beraksi sendiri,” jelas kapolsek, seraya menambahkan mengenai 13 preman lain yang ditangkap akan diperlihatkan kepada beberapa warga korban pemerasan dan penodongan di kawasan itu beberapa hari lalu.(wr)
Tujuh
Penjahat Bus Kota Disergap, Satu Ditembak
Jumat, 16
Agustus 2002, 8:51 WIB
Kompas
dari ketujuh
tersangka itu tak satu pun yang sudah pernah ditangkap. Di antara pelaku, ada
yang badan, kaki dan tangannya dihiasai
tato dengan berbagai motif, mulai dari wanita telanjang sampai gambar binatang.
http://www.kompas.com/metro/news/0208/16/215250.htm
Tiga Pencopet Tertangkap Setelah Polisi Memeriksa Penumpang Bus
Sabtu, 14 September 2002 Kompas
Jakarta, Kompas - Tiga orang pencopet yang beroperasi di sebuah bus metromini S 604 akhirnya tertangkap setelah polisi "menyortir" satu per satu sekitar 30 penumpangnya di halaman Kantor Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Polda Metro Jaya, Jumat (13/9) pukul 09.00. Tarman (39), salah seorang penumpang metromini tersebut, menuturkan, dirinyalah yang memberi tahu dua polisi bahwa di dalam metromini itu ada komplotan pencopet. Telepon seluler warga Kalibata, Jakarta Selatan, itu hilang dari saku bajunya, setelah beberapa orang masuk ke metromini tersebut. Pada saat itu ia tengah bersiap-siap turun karena sudah sampai di halte yang ditujunya, yakni halte Komdak (Polda) di Jalan Jenderal Gatot Subroto. Sebetulnya Tarman sudah memasrahkan hilangnya teleponnya. Pasalnya, ketika dia berteriak "Ada copet" karena kaget, para penumpang, sopir, dan kenek diam saja. Setelah ia turun, seorang bapak yang juga turun mengatakan, di dalam metromini itu memang ada komplotan copet."Saya jadi yakin memang ada copet. Saya lalu memberi tahu dua polisi yang bertugas di luar pintu polda. Polisi lalu menyetop dan naik ke metromini itu bersama saya. Polisi memerintahkan sopir untuk membawa masuk mobilnya ke polda," tutur Tarman, yang ditemui di ruang Tim 10 Unit Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya, setelah memberi keterangan sebagai saksi. Para penumpang lalu diminta turun satu per satu dari metromini itu. Telepon Tarman pun ditemukan di lantai metromini. Polisi lalu meminta Tarman menunjukkan pencopetnya di antara penumpang laki-laki. Tarman mengenalinya seorang, yang kemudian diketahui bernama Bajuri (25). "Saya hafal sekali wajahnya karena ia menabrak saya saat masuk ke metromini. Karena ditabrak itu, tangan saya yang semula memegangi kantung di mana ada telepon jadi pegangan ke atap bus," katanya. Polisi, yang tidak memeriksa penumpang perempuan, lalu meneliti penumpang laki-laki lainnya. Tanpa ragu, polisi memerintahkan dua penumpang yang kelihatannya agak mabuk untuk membuka baju. Begitu terlihat tato pada tubuh mereka, polisi pun yakin kalau kedua laki-laki itu teman Bajuri. Mereka langsung diciduk. Penumpang lain dipersilakan naik kembali ke metromini untuk melanjutkan perjalanannya. Ternyata, keduanya, yakni Hermanto (25) dan Alexander (30), memang komplotan Bajuri. Hermanto mengatakan, sekali beroperasi mereka biasanya berempat sampai enam orang. "Tadi kami berempat. Aris kabur karena sempat turun sebelum bus disuruh masuk ke polda," katanya. Hermanto, yang sudah punya dua anak, mengaku selama dua bulan terakhir bersama komplotannya melakukan pencopetan di atas Mayasari P6, Kopaja 66, Kopaja 19, dan Metromini 604. (RTS)
Empat Pembajak Bus Diringkus Polisi Jumat, 13 September 2002
Jakarta, Kompas - Empat orang tersangka pembajakan bus diringkus Tim VI Unit Kejahatan dengan Kekerasan Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (12/9) siang. Sebilah golok yang terasah tajam disita dari dalam tas yang mereka bawa. Keempat tersangka tersebut adalah Zulizar (27), warga Cipinang Lontar, Unang (28) dan Herdy alias Keling (29), warga Jatinegara, dan Ahmad Yusuf (26), warga Cikarang, Bekasi. Nyaris di sekujur tubuh mereka penuh tato. Kecuali Zulizar, tiga orang lainnya tampak masih "teler" akibat obat-obatan yang ditelannya. lengkap >>

AMANKAN PENGAMEN - Sembilan pengamen yang dicurigai sering melakukan aksi kriminal di bus, Rabu (1/8) dirazia Tim Buru Sergap Poltabes Semarang. Petugas merazia mereka setelah mendapat laporan penumpang bus yang kecopetan dan menunjukkan ciri-ciri tersangka. Sebagian besar dari mereka yang kena razia, di tubuhnya terdapat tato. Dari 9 orang yang dirazia, 4 di antaranya pengamen asal Solo. Chandra Adhie Nugroho http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0108/02/jateng/camp21.htm
Komplotan Kelinci Diringkus
Kamis, 26 Juli 2001 Kompas
Tiga anggota komplotan penodong yang di kalangan kepolisian ditandai sebagai
Komplotan Kelinci (karena memiliki
tato gambar kelinci
di tubuh masing-masing),
nyaris dibakar massa yang meringkusnya, di Jalan Gandaria Utara, Kebayoran Lama,
Selasa (24/7), pukul 20.00.
Cerita Misteri - Senin, 16 Desember 2002 minggu pagi
Arwah Preman Itu Sudah di Jok Belakang Mobilku
SAAT itu aku mendampingi personel Dewa latihan di
studionya Dhani Ahmad. Di seputaran Pondok Indah. Kami sedang menggodog materi
album Cintailah Cinta, sambil bersiap-siap manggung di Sumatera. Latihannya
sampai malam. Yaa, emang gitu kebiasaan teman-teman Dewa. Kalau latihan bisa
sampai pagi. Tergantung mood mereka-lah.
Seperti dini hari itu. Aku keluar dari studio pukul 01.00, meninggalkan Dhani,
Once, Tyo dan Andra. Edwin, waktu itu nggak datang, katanya ada keperluan
keluarga. Tapi perutku tiba-tiba berkeruyuk, aku jadi ingat sejak siang belum
kemasukan nasi. Snack atau makanan kecil sih aku makan, tapi tahu sendiri kan?
Yang namanya perut Indonesia tuh, kalau belum makan nasi kayaknya belum afdol.
Dan aku punya warung makan favorit, Gudeg Manggarai!
Rumah makan itu letaknya di daerah Manggarai. Dari Pondok Indah ke Manggarai
lewat daerah Terowongan Lama Pintu Air Manggarai. Eh, ngomong-ngomong, daerah
ini katanya angker. Konon, awal dekade ‘80-an sempet santer aksi ‘petrus’ alias
penembak misterius yang menghabisi nyawa preman-preman. Setelah ditembak di
tempat, mayatnya biasa dihanyutkan di kali Ciliwung dan nggak sedikit yang
nyangkut di pintu air Manggarai. Katanya lagi, sampai sekarang arwah mereka
sering gentayangan di sekitar situ.
Ah, kenapa aku jadi merinding setiap mengingat cerita itu. Lalu seperti ada yang
mengkomando, mobil aku pinggirkan. Kebetulan aku pengin kencing. Ya, tepat di
dekat pintu air Manggarai itu. Baru aja usai buang air kecil, dari balik semak
ujug-ujug keluar asap. Sumpah! aku ngeliat ada pria tinggi besar setengah
telanjang lagi ngerokok. Ngerinya, setengah badan orang itu hancur bekas
penganiayaan. Di badannya yang penuh tato itu juga
terdapat bercak-bercak darah. Mahluk itu kepalanya nunduk. Hiii...
Selesai?
Belum! Saking ngerinya aku buru-buru naik mobil. Saat aku starter, dari kaca
spion tengah aku sempat melihat, hantu preman itu sudah duduk di jok belakang
mobilku! Wuaa...baru setelah melewati daerah itu, hantu tersebut menghilang.
Makan gudeg batal, mending kunci pintu rapat-rapat di rumah, tidur! n
Kamis, 17 April 2003 Kompas
Dua Penjambret Ditelanjangi Orang Banyak
Jakarta, Kompas - Dua penjambret penumpang kereta api (KA) di Stasiun KA Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, ditelanjangi orang banyak yang menangkapnya, Rabu (16/4) pukul 15.30. Keduanya adalah Adi Gunawan (20), warga Cengkareng, Jakarta Barat, dan Abdul Hadi (20), warga Bogor. Teman keduanya, Iwan, lolos.
Korban kejahatan mereka adalah Mulyani (20), warga Bogor, yang kehilangan kalung emas seberat 11 gram.
Penjambretan kalung korban dilakukan saat KA yang mereka tumpangi berjalan pelan di Stasiun KA Gondangdia. Para pelaku dan korban berdiri di dekat pintu gerbong. Di antara korban dan pelaku masih ada penumpang lain, yakni Ali, warga Cikini.
Begitu korban berteriak "jambret" dan tiga orang itu berlompatan turun dari gerbong, Ali pun berteriak "maling" sambil menunjuk-nunjuk tiga orang itu. Orang banyak di stasiun pun mengejar mereka.
Sementara korban dan Ali tetap di KA karena KA tidak berhenti. Mereka turun di Stasiun KA Cikini, sekitar satu kilometer dari Stasiun KA Gondangdia. Mulyani yang bersama saudaranya, Ade Sunengsih (33), akan pulang ke Bogor, akhirnya diantar Ali kembali ke Gondangdia untuk melapor.
Sampai di sana, Mulyani dan Ali mendapatkan dua dari ketiga penjambret itu sudah ditangkap dan orang banyak menelanjangi mereka. Namun, kalung emas korban tidak ada pada keduanya.
"Untung polisi cepat datang sehingga keduanya selamat. Polisi lalu menyuruh keduanya mengenakan lagi celana panjangnya biar enggak bugil lagi," kata Ali. Tersangka Abdul Hadi mengaku senang polisi cepat datang. "Jadi enggak mati sia-sia di stasiun," katanya.
Tubuh kedua tersangka yang penuh hiasan tato memar-memar bekas pukulan. "Kalung korban dibawa Iwan," kata Abdul. (RTS)
Media Indonesia - 29/05/2001
Polres Jaring 104 Preman
Penjaringan preman bukan hanya di sekitar lingkungan dalam terminal, melainkan juga berkembang ke lingkar luar termasuk warung dan kantor pembayaran pajak kendaraan bermotor. Para pemuda yang sedang `mengatur` lalu lintas dengan meminta bayaran maupun yang sedang bergerombol di depan warung makanan ikut diperiksa. Dari warung-warung itu pula dijaring pemuda yang sedang mabuk berat. Sebagian besar dari mereka memiliki tato di tubuhnya. Kasatserse Agus Irianto menjelaskan Operasi Sadar Jaya IV tidak punya kaitan dengan urusan politik atau upaya untuk membendung kedatangan pendukung Presiden Abdurrahman Wahid. ``Operasi preman ini merupakan bagian dari Operasi Sadar Jaya yang sudah diperintahkan Kapolda. Kita melaksanakan perintah dengan mengamankan tempat-tempat yang disinyalir meresahkan masyarakat,`` kata dia. Operasi Polres Jaktim tergolong berhasil menjaring hasil tangkapan cukup banyak, karena didahului dengan menerjunkan petugas berpakaian sipil sejumlah 130 orang.
Deteksi Ciri Penjahat Jumat, 27 Sept 2002
Jawa Pos
Dirampok di anjungan tunai mandiri (ATM). Perampoknya bertopeng. Satu-satunya
gambar yang direkam kamera bank adalah gambar lengan belakangnya. Jadi, adakah
cara untuk melacak siapa gerangan pelakunya? Adalah kepolisian Amrik yang
mencoba mendeteksi siapa si penjahat itu dengan mencocokannya dengan basis data
komputer para penjahat.
Ciri itu antara lain terdiri atas bekas luka, tato dan ciri-ciri fisik lainnya.
Nah, teknologi kecerdasan buatan akan mengenali kesesuaian pola data yang
diberikan tersebut. Kemudian mengeluarkan analisa siapa sebenarnya pelaku.
Adapun ciri-ciri fisik itu tak hanya bisa diambil dari kamera, tapi juga dapat
berasal dari saksi mata. (frd)
JASAD GILANG AKAN
DIBONGKAR UNTUK OTOPSI (SiaR, 5/6/98)
http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/msg00054.html
NEW
SOLO, Tim Pengacara dan Tim Advokasi mahasiswa Solo serta
keluarga korban akhirnya bisa meyakinkan masyarakat bahwa mayat yang
ditemukan sudah membusuk di semak-semak daerah Sarangan Magetan Jawa Timur
pada 23 Mei itu adalah Leonardus Nugroho Iskandar alias Gilang. Tim ini juga
telah bersepakat dengan keluarga almarhum untuk membongkar jasad Gilang demi
kepentingan otopsi dan penyelidikan lebih lanjut.
Gilang dinyatakan hilang sejak 21 Mei 1998. Korban yang dikenal sebaga
pengamen dan sangat aktif berjuang untuk reformasi ini pada tanggal 21 itu
berpamitan kepada keluarga karena diajak "orang penting" yang akan
memberikan pekerjaan di Madiun - Jawa Timur. Waktu itu pihak keluarga
melarang, namun Gilang berhasil meyakinkan bahwa ia bisa menjaga diri.
Namun sejak kepergiannya, Gilang tak pernah memberikan kabar beritanya
sehingga membuat panik keluar- ganya. Ketika pada 23 Mei tersiar kabar
ditemukan mayat pemuda di Magetan, kawan-kawan dekat korban mulai curiga.
Dan akhirnya kecurigaan tersebut diyakinkan oleh tim pengacara dan tim
advokasi aksi reformasi Solo bahwa berdasarkan foto jasad yang telah dikubur
itu adalah Gilang. Ada pun ciri yang meyakinkan bahwa korban tersebut Gilang adalah gambar
tattoo yang melingkar dileher. "Tatto itu tidak bisa dibantah lagi," kata
sebuah sumber.
4 Pemuda penuh tato rampok penumpang Metromini T-506 Pos Kota 12/09/02 NEW
KLENDER (Pos Kota) - Empat perampok yang badannya penuh tato disergap petugas Reserse Umum Polda Metro Jaya di atas Metromini T-506, Kamis (12/09). Komplotan penjahat berusia muda dengan senjata golok itu, dibekuk polisi saat menguras harta-benda penumpang Metromini T-506 di Klender, Jakarta Timur. Identitas keempat perampok yakni Tung, Zal, Hen dan Yus. Mereka mengaku sejak delapan bulan beraksi telah merampok penumpang biskota sebanyak 50 kali. Petugas Reserse Unit Kejahatan Keras Polda Metro Jaya yang menangani kasus mereka, menyita sebilah golok dan dua jam tangan milik penumpang sebagai barang bukti. Kepala Satuan Reserse Umum AKBP Raja Erizman menjelaskan, komplotan perampok yang sering beraksi di atas biskota itu setelah pihaknya banyak mendapat pengaduan dari masyarakat. Satu korban yang melapor pada kesempatan sebelum penangkapan, Ny.Wati, warga Pondok Bambu, Jakarta Timur. Ibu rumah tangga ini mengaku jam tangannya dirampas saat dirinya dan penumpang lainnya ditodong dengan golok di atas Metromini 506 di daerah Klender, Jakarta Timur.
PETUGAS MENYAMAR Atas pengaduan Ny,Wati, sejumlah petugas berpakaian preman dikerahkan untuk penyamaran layaknya penumpang Metromini. Hasilnya, polisi berhasil menemui Tung dan kawannya sedang mengacung-acungkan golok sambil mempereteli perhiasan dan dompet penumpang pada Metromini 506 lain pada trayek yang sama. Perbuatan brutal itu, tentu saja membuat polisi yang berada dalam Metromini langsung mengambil langkah perlindungan terhadap penumpang. Seketika itu pula, dua anggota polisi menodongkan pistol ke arah perampok. Tanpa ada perlawanan, komplotan ini menyerah dan tangan mereka langsung diborgol. Menurut Tung, ia bersama komplotannya sudah delapan bulan merampok di atas biskota. Sasaran operasinya adalah penumpang Metromini dan Mikrolet yang beroperasi di wilayah Kalender dan Jatinegara, Jakarta Timur.
“Semua hasil rampokan kami habiskan untuk foya-foya di tempat hiburan malam,” kata Tung. Pemuda yang sekujur tubuhnya dibalut tato bergambar ular dan bunga itu mengungkapkan alasannya merampok karena tidak memiliki pekerjaan. “Kami pengangguran Pak,” kata Zal, pelaku lainnya. (ed/75)
_________________________________________________________________________________
KENALI WAJAH PENJAHAT-BERHATI HATILAH !!!

PIL KOPLO: kiri -Polisi menunjukkan pil koployang disita dari tangan Nanang dan Imron, 23 April 02
(Foto:Suara Merdeka/ia-13j) , kanan: dua pengedar pil koplo.

<< Penjahat Penebar Paku Rampok yang tertangkap >>
Pos Kota May 02
Salah
satu, bandar ganja kelas kakap, Didor-digebuki, mati
TANJUNG PRIOK (Pos Kota) - Dua penjahat menemui ajal secara terpisah,
di Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara dan Terminal Pulogadung,
Jakarta Timur. Satu ditembak dan satunya lagi dikeroyok massa. Penjahat yang
resahkan di sepanjang Jl RE Martadinata tewas diterjang timah panas Tim Buser
Polres Metro Tanjung Priok, Senin malam. Ia mencoba kabur saat disergap dibawah
jembatan layang Tanjung Priok. Tersangka Supriyadi, 30, selain gembong penodong
di sepanjang Jl RE Martadinata, dikenal pula sebagai bandar gana kelas kakap. Ia
juga pernah membunuh seorang preman, Slamet alias Bagol pada 16 Nopember 2001 di
Jl Ancol Selatan. Kapolsek Metro Tanjung Priok Kompol Drs Agus Pranoto
mengatakan, penembakan terhadap Supriyadi terjadi sekitar Pk 22:00. Saat itu
lima anggotanya sedang melakukan observasi wilayah dipimpin Kanit Resintel Iptu
Ami Prindani. Tiba-tiba dari arah jembatan layang terdengar teriakan wanita
penumpang mikrolet. Rupanya ia ditodong oleh seorang lelaki bercelana panjang
jean. Penjahat itu langsung dikejar. Namun ia kabur ke arah rel kereta api
Kampung Kebon Kelapa. Namun ia kabur ke arah rel kereta api Kampung Kebon Kelapa. Tak
ayal, dua butir pelor diarahkan ke tubuhnya. Dan penjahat
bertato batik di punggung ini pun menemui ajal. Mayatnya langsung
dikirim ke RSCM.
''Sajak-sajak'' di Bus Kota yang Meresahkan Suara Pembaruan 2 April 02
Dia mengatakan, ia pernah mengalami kejadian yang cukup menegangkan ketika pengamen yang beranggotakan lima orang, dengan badan bertato tiba-tiba naik KA. ''Pengamen itu sepertinya sengaja mempertontonkan tatonya dengan mengenakan kaus oblong,'' ujarnya. Dengan setengah memaksa mereka meminta uang kepada penumpang....baca lengkap >>
4
Bandit Bertato Tengkorak-Naga Diringkus Yogya, Bernas Sabtu 23 Maret 02
Empat dari sepuluh kawanan penjahat spesial pencurian dengan pemberatan (curat),
dengan ciri khas lengan dan punggung ditato
tengkorak dililiti ular naga, Jumat (22/3) kemarin pagi sekitar
pukul 05.30 WIB disergap di tempat persembunyiannya. Penyergapan di tiga lokasi
berbeda yang dilakukan anggota Resintel Polsektabes Gondokusuman, Yogya ini,
dipimpin langsung oleh Kapolsek- tabesnya, Iptu Tri Wahyudi dan Kanit
Resintelnya, Ipda Suhadi.Dalam penyergapan terhadap kawanan penjahat yang sudah seringkali melakukan
tindak kejahatan di wilayah Kota Yogya dan Sleman ini, diberi sandi serangan
fajar. Penyergapan ini, berhasil meringkus sekaligus empat dari sepuluh
tersangka pelaku, dan enam lainnya dinyatakan sebagai buron Jajaran Poltabes
Yogya.
Empat tersangka yang diringkus dalam operasi serangan fajar ini, di an- taranya
berinisial AAS (26) dan DP (24), keduanya warga Jogoyudan, Jetis, dan Srt alias
Simek (22) warga Pringgokusuman, Yogya, serta Mul (28) warga Ka- rangasem, Wedi,
Klaten. Dari empat tersangka ini, DP yang sudah seringkali ma- suk LP, dan
bahkan ia baru saja satu bulan bebas dari dari LP Wirogunan, Yogya, setelah
divonis 2 tahun oleh Pengadilan Negeri Sleman dalam kasus curanmor di kawasan
UGM. Sedangkan enam tersangka lainnya yang dinyatakan sebagai buron, masing- masing
Jk (29), Er (27), Tnt (25), Agr (24), Mbk (26), dan Hr (23). Keenam buronan ini,
sebagian warga Yogya, Semarang dan Klaten serta Solo. Selain meringkus keempat
tersangka pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti hasil kejahatan keempat
tersangka, di antaranya berupa 14 stick golf, mesin telepon merek Brother, tape
caraoke, satu set komputer merek Pen- tium, printer Epson dan lima sepeda
Federal. Selain itu, polisi juga menyita sebilah pisau dan sebuah linggis kecil
yang biasa digunakan untuk menjugil pintu maupun jendela yang menjadi sasaran
kelompok DP. Kasat Korps Reserse Poltabes Yogya, Komisaris Polisi Drs Suroto MSi,
di- dampingi Kapolsektabes Gondokusuman, Yogya, Iptu Tri Wahyudi dan Ipda
Suhadi kepada Bernas, Jumat siang di ruang kerjanya mengatakan, empat tersangka
yang kini meringkuk di sel tahanan sementara di Mapolsektabes Gondokusuman itu,
merupkan sindikat tindak pencurian dengan pemberatan, dengan sasaran utamanya
perkantoran, perusahaan, pertokoan dan rumah warga yang ditinggal bepergian.
Kelompok ini, jumlahnya 10 orang, merupakan penjahat spesial Curat. Terungkapnya
sindikat spesial pencurian dengan pemberatan ini, lanjut Suroto, karena
ditangkapnya tersangka Mul, yang pada Kamis (21/3) dini hari pukul 03.30 WIB
mencoba membobol Kantor Asuransi Jiwa Sraya di Kotabaru, Gondokusuman. Aksi Mul
ini, sempat diketahui penjaga malam kantor itu, bernama Sutanto (40), yang
langsung melaporkan aksi pencurian Mul ke Polsektabes Gond- okusuman, Yogya.
"Menerima laporan adanya aksi pencurian di Kantor Asuransi Jiwa Sraya itu,
satu unit Perintis Sabhara dan Resintel Polsektabes Gondokusuman yang dipimpin
Kanit Resintel Polsektabes itu, Ipda Suhadi, langsung menggerebek kantor. Karena
kantor itu sudah dikepung anggota, akhirnya Mul ditangkap di tempat
persembunyiannya di eternit salah satu ruangan di Kantor Asuransi Jiwa Sraya
tersebut," kata Suroto. Tertangkapnya Mul, tambah Kapolsektabes
Gondokusuman, Tri Wahyudi, lang- sung dikembangkan oleh Kanit Resintelnya, Ipda
Suhadi. Dalam pemeriksaan secara intensif terhadap Mul ini, cukup mengejutkan
anggotanya. Karena, Mul terungkap merupakan salah satu dari sindikat pencurian
spesial dengan pemberatan yang berjumlah 10 orang, dan sudah seringkali
melakukan aksi kejahatan di wilayah Kotabaru, Yogya dan di wilayah Sleman.
"Empat tersangka yang masih dalam pemeriksaan intensif anggota kami ini,
sudah mengaku seringkali melakukan tindak pencurian dengan modus operandi jugil
pintu dan jendela. Dari sekian tindak kejahatan yang dilakukan kelompok DP ini,
diantaranya di Kantor LPPKHSKHAPI di Jalan Abu bakra Ali, Kantor LBHI Kotabaru,
Kantor Asuransi Jiwa Sraya. Selain itu, masih banyak lagi dan pemeriksaan
keempat tersangka masih terus kita kembangkan," kata Tri Wahyu- di.
"Dengan ditangkapnya semua anggota sindikat ini, kami berharap dapat dengan
segera mengungkap kasus pencurian kelompok DP ini. Kita yakin, kalau semua dapat
kita tangkap, pihaknya yakin akan dapat mengunggkap lebih banyak lagi aksi
kejahatan mereka. "Apalagi, enam dari sepuluh kelompok DP ini, sudah masuk
dalam tafdar Residivis dan target Operasi (TO) dan daftar pencarian orang (DPO)
Poltabes dan Polres Sleman. Untuk itu, kami telah menginstruksi kepada Ipda
Suhadi untuk meringkus keenam tersangka yang masih buron," ucapnya. (hri)
Pria Bertato dibunuh di Bogor Pos Kota 22 Maret 2002
BOGOR (Pos Kota) - Seorang laki-laki bertubuh dipenuhi tato di tubuhnya tewas membusuk, di Kampung Rambutan - Lebak Kantin, Kota Bogor Tengah Pagi sekitar pk 06:00 WIB oleh warga setempat. Di bagian kepala korban yang tidak diketahui identitasnya itu, ditemukan luka tembak di bagian pelipis. Sedang tengkorak kepala belakang terlihat remuk akibat benturan benda tumpul. Saat ditemukan mayat tersebut dalam keadaan membusuk penuh belatung.Sementara di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan bekas ceceran darah korban, diperkiraka korban dibunuh sekitar 3-4 hari lalu. Saat evakuasi mayat yag sempat menjadi tontotan warga sekitar dan orang yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman. Bahkan sempat memacetkan arus kendaraan beberapa saat. Ciri-ciri korban berbadan gemuk, rambut lurus, memakai celana jeans dan berkaos hitam, sekujur tubuhnya dipenuhi tato. Saat ini mayat berada di kamar jenazah RSU PMI Bogor.
Residivis Penuh Tato Curi Televisi Tetangga Rabu, 13 November 2002 Suara Merdeka
Purwokerto, CyberNews. Dengan alasan tidak punya pekerjaan, Warsikin (28), seorang residivis, nekad mencuri televisi milik tetangga sendiri. Ketika ditangkap polisi, residivis yang tinggal di Jl Mersi, Purwokerto Timur ini mengaku melakukan perbuatan tersebut karena terpaksa. Tidak punya pekerjaan! Kapolsektif Purwokerto Ipda Fauzan W ketika dihubungi Rabu (13/11) menjelaskan, korban dalam pencurian televisi 21 inci itu adalah Sumiati (39), yang hanya beda RT dengan pelaku.Korban setelah kehilangan TV kemudian melapor ke Polsektif. Polisi berdasarkan keterangan dari korban mengadakan pelacakan, dan yang dicurigai pertama kali adalah Warsikin. Dugaan itu benar karena tersangka mengaku terus terang.Korban mengatakan, bangun dari tidur untuk makan sahur, ternyata televisi yang ada di ruang tengah sudah tidak ada. Keluarga korban mengadakan pengecekan, mendapati jendela sudah dicongkel orang. "Tersangka masuk lewat jendela, dan keluar lewat pintu."
Tersangka mengaku dalam melakukan pencurian bekerja sama dengan temannya yang sering dipanggil Botol. Kini temannya itu menjadi buron petugas. Televisi barang curian sudah diamankan polisi.
Menurut Ipda Fauzan, tersangka Warsikin sudah tiga kali masuk penjara. Dia terlibat berbagai kasus pencurian, termasuk televisi. Tersangka bertubuh besar ini badannya penuh tato, sehingga ditakuti orang lain.
Warsikin ditangkap di rumahnya, oleh polisi tanpa melakukan perlawanan. Ketika polisi datang, dia sudah tahu akan ditangkap dan menyerah. (pwk/Cn08)
Antisipasi Keresahan, Preman Dirazia 28 November 2002 Batam Pos
Pekanbaru, Sijori - Maraknya aksi premanisme akhir-akkhiir ini membuat masyarakat resah, padahal pihak kepolisian tidak henti-hentinya melaksanakan razia preman. Walaupun telah banyak yang terjaring dan diberikan penyuluhan, ternyata setiap polisi melakukan razia lagi-lagi berhasil menjaring preman.Setelah dua tempat ini dirazia, polisi melanjutkan razia ke Jalan Tanjung Datuk dan Jalan Sudirman. Disini polisi berhasil menjaring preman tanpa identitas termasuk tenaga pengaman di ruko sepanjang Jalan Tanjung Datuk yang tidak dapat menunjukkan identitas dirinya.
Sesampainya puluhan preman ini di Mapoltabes, preman ini didata dan di foto kemudian dimasukkan kedalam sel tahanan dengan kata lain diamankan semalam menunggu seluruhnya diberi penyuluhan dan arahan agar tidak melakukan aktifitas premanismen lagi.
Sekitar pukul 16.00 WIB, Kapoltabes Pekanbaru, Kombes Pol Drs Totoy H Indra, didampingi Kasat Reserse, AKP Daniel Tifaona SIK memasuki ruang pendataan preman yang terjaring. Pada kesempatan itu, Kapoltabes sempat berbincang-bincang dengan preman termasuk memeriksa tubuh preman yang terjaring.
Ketika diperiksa, Kapoltabes menemukan salah satu pemuda memakai tato yang sudah dihapus namun masih berbekas. Kala itu, Totoy menanyakan apa mafaat tatao yang digambar di kedua lengan pemuda tersebut. Ditanya demikian, pemuda hanya menjelaskan tato ditaruh dilengannya untuk memberikan kesan gagah dan bernilai seni.
TEKAD BERANTAS PREMAN HARUS "ACTION" No. 008 TH KE - 2 - APRIL 2001 Wacana
Kebebasan
acapkali memang berbatas tipis dengan keterlanjuran. Dan karena kebebasan pula
sering membuat seseorang tergelincir, bahkan terperosok jauh pada pelimbahan
nista atau kejurang sesat. Pergaulan bebas misalnya, berakibat buruk pada
perilaku dan tak lagi menghiraukan nilai-nilai moral maupun etika-etika
kemasyarakatan. Ujung dari kebebasan sebenarnya tak akan pernah kita jumpai.
Jikalau seseorang menemukan, barangkali ia akan melupakan hirarki
kemanusiawiannya. Dan inilah yang akhirnya mencemaskan orang lain atau
masyarakat pada umumnya.
Perlilaku ala free man yang kian
subur dalam kerasnya atmosfer Ibukota Jakarta ini, terkadang menyeret mereka
pada tindak kejahatan, seperti pemalakan, pemerasan, atau bahkan “penodongan
terbuka”. Setiap saat dan terus menerus. Sasaran aksi yang meresahkan itu
umumnya dialami pedagang ( kaki lima). Komunitas free man serta
aktivitasnya seperti terorganisir. Dilengkapi dengan tampilan berwajah garang
dan seram, dan terkadang juga disempurnakan dengan ornamen
tato
pada kulit tubuhnya. Sehingga fenomena free man- karena lekuk lidah yang
lebih suka pada penggampangan ucapan, kemudian menjadi preman – menjadi semacam
impresi bagi masyarakat di sekitarnya.
________________________________________________________________________________________
PETRUS - Soeharto - Orde Baru
>> Amnesty International Report (APEC 1994)
versi komplit click: http://www.amnesty.org/ailib/aipub/1994/ASA/215094.ASA.txt
4.1 The "Petrus" Legacy The summary killing of alleged criminals is not a new problem in Indonesia. Over the past decade, thousands of real or alleged criminals have been deliberately targeted by Indonesian police and military forces, or by death squads operating on orders from the highest authorities. The assassination of criminal suspects reached a peak in the mid-1980s, but has continued in recent years on a reduced scale.
In Jakarta, for example, a "shoot-on-sight" policy instituted by the Chief of Police in 1989 left more than 200 dead over four years, and the true figure may well be much higher.[32] From January 1992 to February 1994 alone, Jakarta police shot and killed 134 alleged criminals.[33] Thus, the killings in advance of the APEC conference are not an isolated occurrence, but simply the most recent manifestation of a long-standing pattern. Between 1983 and 1986, government death squads summarily executed an estimated 5,000 alleged criminals in various cities in Indonesia. Known locally as Petrus, the summary executions were carried out by squads driving unmarked vehicles. The killings were often performed in public places and the victims' bodies were left in full view. At the time, Indonesian government and military authorities flatly denied any responsibility for the killings, blaming the deaths on gang warfare. However, in 1989 President Suharto revealed in his memoirs that the "mysterious killings" had indeed been carried out by members of the security forces and that they were part of a deliberate government policy to deal with "criminal elements" through a kind of public "shock therapy". The President provided the following rationale for the killings: The peace was disturbed. It was as if there was no longer peace in this country. It was as though all there was was fear... We had to apply some treatment to take some stern action. What kind of action? It had to be with violence. But this violence did not mean just shooting people, pow! pow! just like that. No! But those who tried to resist, like it or not, had to be shot... Some of the corpses were left [in public places] just like that. This was for the purpose of shock therapy...This was done so that the general public would understand that there was still someone capable of taking action to tackle the problem of criminality.[34] Although the "mysterious killing" campaign gradually drew to a close in 1986, the idea which underpinned it remained. Where they are confronted by evidence of rising criminality, or where a political decision has been taken to tighten security, police and military authorities continue to resort to such summary justice. One victim of Jakarta's tough line on criminals, before the start of "Operation Cleansing", was Hartono, a suspected thief aged 20, shot dead while allegedly trying to flee police custody in the middle of the night on 24 May 1993. He was wearing hand-cuffs when he was shot. According to official sources, Hartono had been taken to a part of West Jakarta by police to identify the hideout of another member of his criminal gang. A police spokesperson said that as they walked toward the hideout, Hartono suddenly "...tried to run away and free his hands from the hand-cuffs. The officers said he broke the hand-cuffs". [35] The officers involved claimed that Hartono had ignored three police warnings so that they were "forced to shoot him". Although they said they had aimed for his legs, two bullets hit him in the back, killing him. No investigation was known to have been undertaken by the end of October 1994 and no police officers had been brought to justice.
Complete version of this reportage: http://www.amnesty.org/ailib/aipub/1994/ASA/215094.ASA.txt
"Pekerjaan Tangan" Wagiman Koto
Wagiman Koto
diwawancarai wartawan (bukan wawancara langsung via telepon dengan BCC-Indonesia
di London, tetapi rekamannya disiarkan langsung) di terminal bus Semarang.
Pertama-tama ditanyakan mengapa
ia menjadi pencopet. Berikut keterangan Wagiman, "Mas ..., saya putus sekolah
dari STM, dan karena susah mencari pekerjaan, yah ... terpaksa saya berusaha
dengan `pekerjaan tangan' ini". Rupanya si wartawan
tidak faham apa itu `pekerjaan tangan', sehingga bertanya balik, "Maksud mas
Wagiman dengan `pekerjaan tangan' itu apa?" "Ya ... mencopet itulah, mas,
he...he..", jawab Wagiman. Wagiman juga ditanya soal "Petrus" yang konon sudah
mulai lagi, dan bagaimana ia menyelamatkan diri ketika "Petrus" beraksi beberapa
tahun lalu. "Wah.., mas, kalau `Petrus' saya betul-betul takut, mas. Waktu `Petrus'
mulai dulu, saya baru saja berumur 18 tahun. Saya sudah 2 tahun `kerja' waktu
itu. Karena kata
orang yang dicari-cari itu yang bertato,
tato
di tangan dan di punggung saya, saya setrika.
Karena masih kuatir juga, saya lari ke Riau dan sembunyi di kampung- kampung di
sana selama 4 tahun. Baru sesudah agak aman saya kembali
lagi ke sini, dan mulai lagi `kerja'". Tentang mengapa Wagiman memilih "pekerjaan
tangan" sebagai profesi,
dan berapa penghasilannya, berikut ringkasan jawaban Wagiman. "Mas ..., lantas
saya mau bagaimana lagi! Saya perlu makan. Jadi, terpaksa ya ..., kerja copet
ini saja. Saya biasa beroperasi di terminal dan dalam bis
rute Semarang -- Yogyakarta. Ya ..., sekali operasi bisa sampai Rp 50.000,- yang
saya dapat. Masak orang kayak saya ini yang ditembak, mas! Kalau mau ditembak,
ya ..., koruptor-koruptor itulah!"
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1994/05/07/0003.html
PENGADILAN SEJARAH TERHADAP SOEHARTO -new
Pada masa ini pula terjadi pembunuhan misterius (Petrus) yang diakui oleh Soeharto, yaitu penembakan terhadap para preman atau residivis kriminal, yang mayatnya ditaruh di tempat umum, antara tahun 1983-1985, dengan jumlah korban mencapai 5000 jiwa. Mereka yang terbunuh mempunyai ciri umum, yaitu memiliki tato di tubuhnya. Padahal sebelumnya, keterangan resmi pemerintah di suatu sidang PBB di Jenewa, peristiwa itu adalah akibat konflik antar-geng. Dengan kata lain, Soeharto sebenarnya dapat dituntut karena sedikitnya mengetahui pelanggaran HAM yang amat berat itu, tetapi tidak berusaha mencegah. baca lengkap >>
Pengadilan Sejarah Terhadap Soeharto (1)*
oleh: Dr Asvi Warman Adam** Kamis, 22/08/02, 10.25
Pada masa ini pula, terjadi pembunuhan misterius (Petrus) yang diakui oleh Soeharto. Yaitu penembakan terhadap para preman atau residivis kriminal, yang mayatnya ditaruh di tempat umum antara tahun 1983-1985, dengan korban mencapai 5.000 jiwa. Mereka yang terbunuh mempunyai ciri umum, yaitu memiliki tato di tubuhnya. Padahal sebelumnya, keterangan resmi pemerintah di suatu sidang PBB di Jenewa, peristiwa itu adalah akibat konflik antar-geng. Dengan kata lain, Soeharto sebenarnya dapat dituntut karena sedikitnya mengetahui pelanggaran HAM yang amat berat itu, tetapi tidak berusaha mencegah.
http://www.indonesia-house.org/archive/220802Asvi-soeharto1.htm
Tubuh yang Mendua (Nuraini Juliastuti)
Di Indonesia sendiri pernah ada suatu masa ketika tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali, dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat. Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat pengesahan ketika pada tahun 1980-an terjadi pembunuhan terhadap ribuan orang gali dan penjahat kambuhan di berbagai kota di Indonesia. Pembunuhan ini biasa disebut dengan Petrus, neologisme dari kata penembak dan misterius. Tanggapan negatif masyarakat tentang tatto dan larangan memakai rajah atau tatto bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tatto sebagai sesuatu yang dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto dianggap sama dengan memberontak. Tetapi justru term pemberontakan yang melekat pada aktivitas dekorasi tubuh inilah yang membuat gaya pemberontak ini populer dan dicari-cari oleh anak muda. Hal ini juga terjadi dalam persoalan merokok. Sesuatu yang dianggap berbeda, lain, dan serba kontras dari sesuatu yang biasa-biasa saja, selalu punya kecenderungan besar untuk dilakukan banyak orang. Di situ terdapat ambivalensi antara pemberontakan dan gaya. Sesuatu yang dianggap berbahaya dan menyakitkan akan sekaligus dianggap sebagai gaya dan ciri fesyen tertentu justru karena sifat-sifatnya yang khas tersebut. Dan justru di sinilah pengotentikan identitas seseorang itu berasal. Setiap orang punya kebutuhan untuk mengambil jarak dan mengkonsumsi dirinya sendiri justru dari sisi-sisi yang dianggap berseberangan dari orang lain, dan dengan demikian berusaha membuat seragam diri yang otentik. Diatas semuanya, segala sikap mendua terhadap tubuh tidak hanya rute untuk menuju status tertentu dimata orang lain, tetapi juga pernyataan rasa subjektivitas seseorang. baca lengkap >>
Tatto, antara mode dan pemberontakan >> Satu Lelaki.com
Anda tentu sering melihat tatto, bukan? Meskipun cuma sekadar gambar, fungsi tatto macam-macam. Ada yang cuma sekadar simbol kejantanan, untuk mempercantik diri, tanda kesuburan, dan sebagainya. Bahkan, ada pula yang dipolitisir. Contohnya dulu ketika Soeharto memerintahkan 'petrus' pada orang-orang bertatto.
Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Jaman dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk mentatto seseorang. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakkan dengan mesin untuk 'mengukir' sebuah tatto.Di kuil-kuil Shaolin malah memakai gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuh. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu kemudian menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu.Pada sistem budaya yang berlainan, tatto mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda. Suku Maori di New Zealand membuat tatto yang berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat. Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan Solomon, tatto ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus inisiasi untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti diatas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai tatto untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu
Di Indonesia sendiri, pernah ada masa ketika tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali atau bromocorah. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan salah dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat. Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 80-an terjadi pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali.
Mantan Presiden Soeharto dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya mengatakan, "...petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat". Orang-orang kulit putih menerapkan sistem politik apartheid di Afrika Selatan hanya karena orang-orang Afrika berkulit hitam'. Di Jerman, Hitler dengan Nazi-nya membantai orang-orang Yahudi hanya karena di dalam tubuh orang Yahudi tidak mengalir darah Arya, darah tubuh manusia yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di bumi ini menurut Hitler. Sebelum tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, tatto memang dekat dengan budaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tatto dan larangan memakai rajah atau tatto bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tatto sebagai sesuatu yang: dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada, sama dengan membebaskan diri terhadap segala tabu dan norma-norma masyarakat yang membelenggu. Orang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat memakai tatto sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri. Anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tatto sebagai simbol pembebasan. Setiap jaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Dulu tatto dianggap jelek, sekarang tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Kalau era ini berakhir, entah tatto akan dianggap sebagai apa. Mungkin status kelas sosial, mungkin sekedar perhiasan, atau yang lain [hnl] >> satulelaki.com.
Tatto:
Antara Politik dan Keindahan Tubuh
Oleh Nuraini Juliastuti dan Antariksa
Di Indonesia sendiri, pernah ada masa dimana tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat.Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 80-an terjadi pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali (penjahat kambuhan) di berbagai kota di Indonesia. Soeharto (mantan presiden) dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (PT.Citra Lamtorogung Persada, Jakarta, 1989) , mengatakan bahwa petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat. Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu penjahat dan layak dibunuh? Brita L. Miklouho-Maklai dalam Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997) menyebutkan bahwa para penjahat kambuhan itu kebanyakan diidentifikasi melalui tatto, untuk kemudian ditembak secara rahasia, lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat seperti sampah.Baca artikel lengkap: http://situskunci.tripod.com/teks/tato.htm
>>Latitudes Magazine vol 1-February 2001
Tattooing In Indonesia, From Criminality To Creativity
By M Dwi Marianto
PENGADILAN SEJARAH TERHADAP SOEHARTO
Asvi Warman Adam
Pada masa ini pula terjadi pembunuhan misterius (Petrus) yang diakui oleh Soeharto, yaitu penembakan terhadap para preman atau residivis kriminal, yang mayatnya ditaruh di tempat umum, antara tahun 1983-1985, dengan jumlah korban mencapai 5000 jiwa. Mereka yang terbunuh mempunyai ciri umum, yaitu memiliki tato di tubuhnya. Padahal sebelumnya, keterangan resmi pemerintah di suatu sidang PBB di Jenewa, peristiwa itu adalah akibat konflik antar-geng. Dengan kata lain, Soeharto sebenarnya dapat dituntut karena sedikitnya mengetahui pelanggaran HAM yang amat berat itu, tetapi tidak berusaha mencegah.
Baca lengkap: http://www.xs4all.nl/~badjasur/kreasi/no1/pengadilanno1.htm
MEMASUKI Panti Sosial Marsudi Putra Dharma Phala (PSMPDP) di Jl Raya Kayu Agung (32 km barat daya Palembang), Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, rasa cemas langsung sirna, setelah melihat beberapa remaja putra mengulurkan tangan. Tiada tanda-tanda yang menunjukkan, kenakalanlah yang mengantarkan mereka ke tempat yang berada di areal seluas 4,5 hektar itu. PSMPDP didirikan tahun 1981 bagi penyandang masalah sosial khusus anak nakal. Tapi kenakalan 100 penghuninya jangan diasumsi serupa dengan kenakalan anak-anak sebayanya di kota besar, semisal yang akrab dengan pil ecstasy atau tawuran. Dari 100 anak itu, sebagian besar (57 anak) berpendidikan SD, selebihnya SLTP (25) dan SLTA 18 anak. ''Saya cuma senang ngumpul-ngumpul dengan teman usai menderes getah karet,'' desis Latif (21) yang diakui para petugas di PSMPDP sebagai anak ternakal sebelumnya. Setidaknya, itu tampak dari tubuhnya yang banyak dihiasi tatto. ''Namanya juga anak muda, sekadar gaya-gayaan,'' kata Latif, tamatan SD asal Desa Airpete, Kecamatan Muarabelitang, Kabupaten OKI. Mereka juga kurang senang dijuluki sebagai anak nakal. ''Benar, kok kita ke sini kan untuk menimba keterampilan,'' tutur Arifin (20), kiriman Kanwil Depsos Riau. Ia bersama tiga temannya terpilih di antara 40 calon penghuni panti asal Riau. MESKI demikian, mereka amat potensial menjadi nakal dan bukan tak mungkin meningkat menjadi pelaku kriminal. Apalagi jika mengacu pada definisi Departemen Sosial, anak nakal adalah yang berperilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat lingkungannya, sehingga merugikan dirinya, keluarga atau orang lain. Ciri-cirinya, kerap bolos sekolah, pernah mencuri di lingkungannya, memeras teman sendiri, mencoret-coret atau merusak fasilitas umum, memancing keributan dan perkelahian. Kepala PSMPDP, Achyar Uzair Tou ketika menerima kunjungan Kakanwil Depsos Sumsel Soeparman hari Sabtu pekan lalu, mengakui, anak-anak binaannya umumnya yang tidak memiliki hubungan harmonis dengan orangtuanya. Di Sumsel terdata 25.000 anak yang terkategori nakal. Yang terjaring masing-masing Dinas Sosial di dati II setempat baru 100 orang. Merekalah yang kemudian dimasukkan ke panti. Panti ini merupakan satu-satunya di Sumatera. Karenanya untuk tahun 1996/1997 ini PSMPDP menerima titipan anak nakal asal Riau. Di PSMPDP, mereka diberi bimbingan sosial dan latihan keterampilan. Setelah beradaptasi tiga bulan pertama, disusul latihan keterampilan montir motor yang diikuti 22 anak, montir mobil (34), las karbit (20) dan elektronika 24 anak. Kakanwil Depsos Soeparman mengakui, pihaknya hanya mampu menyediakan sarana latihan sebagai penunjang latihan lebih lanjut. Artinya, Depsos cuma membina, mengembangkan dan mengubah sikap mereka selama setahun di PSMPDP. ''Yang semula mereka terisolasi secara sosial, merasa minder dan semacamnya, jika masuk ke PSMPDP menjadi normal,'' kata Soeparman. Jadi, pemberdayaan manusia di sini hanya 35 persen. Tiga tahun terakhir PSMPDP menjalin kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Depnaker dan Apindo, dengan harapan setelah meninggalkan panti, peserta mampu mandiri. Tak ada pantauan khusus, keberadaan ''alumni'' panti ini. Sebab setelah keluar dari PSMPDP, amat jarang yang melaporkan diri, padahal mereka diserahkan kembali ke Dinas Sosial yang semula mengirimkannya. Minimnya dana, potensial menghalangi pengembangan PSMPDP ini. Dana yang cuma Rp 125.000 per tahun bagi setiap anak, sulit untuk mengelola usaha itu. Meski uang sekian tadi masih ditambah uang makan Rp 2.000 per hari per orang. (mdr)
PREMANISME-KRIMINALITAS
1995
>>Kompas 21-Agustus-1995
Pria Bertato Tewas Ditikam Kawan Sendiri
Jakarta, Seorang pria yang sehari-hari bekerja selaku buruh dan sebagian besar tubuhnya dihiasi tato, tewas ditusuk oleh temannya sendiri pada hari Sabtu (19/8) malam di Kelurahan Pekojan, Jakarta Barat. Tersangka pelaku penusukan ditahan di Kepolisian Sektor Metro Tambora, Jakbar. Istri korban Ny. Giatmi (30) di RSCM Jakarta sambil menangis menuturkan, korban Samsudin (33) selama ini diketahui sebagai orang tidak pernah cekcok dengan tetangga. Hubungan antara korban dan tersangka yang berinisial Ab (30) pun cukup dekat. Menurut cerita para saksi di tempat kejadian, ketika itu korban yang sedang duduk sendiri di depan rumahnya dihampiri tersangka yang membawa linggis dan belati. Tersangka menuduh korban telah memukuli saudara laki-lakinya sehari sebelumnya. Tersangka yang dalam keadaan mabuk ini langsung mengayunkan linggisnya ke kepala korban, namun ditangkis. Merasa serangan linggisnya gagal, tersangka mencabut sebuah belati yang terselip di pinggangnya kemudian menusukkannya tubuh korban. Mendapat tikaman belati, korban tidak bisa mengelak lagi dan tersungkur bersimbah darah. Melihat korbannya tidak berdaya, tersangka melarikan diri. Sementara warga sekitarnya yang melihat peristiwa itu langsung melaporakan ke polisi. Suami saya tewas seketika, sebelum sempat di bawa ke rumah sakit, kata Ny. Giatmi. Ditambahkan, pada tubuh korban terdapat sejumlah bekas tusukan tepatnya di dada dan lambung.
Pada tubuh korban terdapat sejumlah tato beraneka ragam. Pada lengan kanan terdapat tato bertuliskan dan gambar ular cobra. Di lengan kiri terdapat tulisan Komala Sari dan gambar ular naga. Di dada kiri terdapat rajah bunga mawar dan bagian kanan burung garuda. Pada kedua paha dan bahunya bergambar ular naga. Meskipun bertato, tapi suami saya orang baik, kata istri korban. Polsek Metro Tambora yang dihubungi membenarkan peristiwa pembunuhan tersebut. Salah seorang petugas bagian reserse dan intel menuturkan, tersangka penusukan sudah ditahan pihak kepolisian dan sudah diperiksa. Pihak kepolisian juga sudah meminta keterangan sejumlah saksi dan keluarga korban. Tersangka berhasil kami tangkap di Tangerang dalam sebuah pengejaran. Ia tidak melawan ketika kami tangkap di sebuah rumah persembunyiannya, kata polisi.
1996 - 1997
1998
>> Suara Pembaruan 22 Maret 1998
Jakarta, 22 Maret Tersangka pemeras, resedivis, terpaksa ditembak petugas Polsek Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Sabtu (21/3) malam, karena mencoba melawan petugas saat akan ditangkap.
Tersangka Zulkarnaen (28) tewas seketika, setelah dua peluru bersarang di dada dan kepalanya.
Menurut keterangan yang dihimpun Pembaruan di Instalasi Kamar Mayat RSCM, tersangka yang beralamat di Jalan H Johan RT 004/07, Kelurahan Bintarojaya ini, kedapatan sedang melakukan pemerasan di sekitar Blok M. Kebetulan secara cepat petugas Polsek Kebayoranbaru yang sedang berpatroli di sekitar tempat kejadian mengetahuinya dan segera mengejar pelaku.
Lelaki yang mengenakan kaus hitam dan celana jins tersebut berupaya melarikan diri, bahkan ketika hendak ditangkap ia berusaha melawan petugas di Jalan Melawai III, samping Pasar Raya, Blok M, Jakarta Selatan.
Petugas melepaskan tembakan peringatan dalam upaya agar tersangka mengakhiri perlawanannya. Namun, pelaku tetap nekat, sehingga terpaksa petugas menembak lelaki yang berperawakan sedang yang tubuhnya dipenuhi tato ini. Dalam kondisi kaus dan celananya berlumuran darah, jenazah Zulkarnaen dilarikan ke Instalasi Kamar Mayat RSCM sekitar pukul 23.00 WIB.
1999
>> Suara Pembaruan 18 Feb1999
Jakarta, Pembaruan, Daftar penjahat ibukota yang tewas ditembak petugas Polda Metro terus bertambah setelah dua pelaku kejahatan Kamis (18/2) dini hari terterjang timah panas hingga tewas. Sementara perampasan mobil dengan membuang pengemudinya terjadi di Cengkareng, Kamis dini hari. Masing-masing pelaku kejahatan tersebut adalah Wawan Alias Awang (24) tersangka pelaku perampasan motor dengan kekerasan di Pejagalan, Jakarta Utara dan Endang alias Iyong (35) tersangka pelaku penjambretan di Jembatanbesi, Jakarta Barat. Kedua korban tewas dikirim ke Instalasi Kamar Jenazah RSCM. Kendati demikian, Kadispen Polda Metro Jaya, Letkol Pol Drs Zainuri Lubis mengatakan laporan yang masuk ke Mapolda Metro Jaya hingga Kamis pagi, tersangka Wawan masih dalam pemeriksaan kepolisian sektor Penjaringan. Keterangan lebih lanjut menyebutkan, Wawan yang tercatat sebagai warga Gg Gelas RT 06/07, Jakarta Utara itu pada Rabu sekitar pukul 19.00 merampas motor milik korban bernama Lili Liana (20). Kepada petugas, Lili mengatakan, saat dirinya mengendarai motor melintas di Gg Naga, Pejagalan, Jakarta Utara, tiba-tiba Wawan bersama seorang rekannya mendorongnya sehingga korban terpelanting jatuh. Belum sembuh dari keterkejutan dan baru bangun dari aspal, tiba-tiba pelaku menodongkan senjata tajam sambil mengancam agar korban tidak berteriak. Lili yang beralamat di Pejagalan RT 11/15 itu terpaksa merelakan motor Astrea B 5405 digelandang pelaku serta dompetnya yang berisi Rp 200.000. Kedua pelaku dengan dua kendaraan motor langsung melaju kencang. Pada saat yang sama korban berteriak sehingga mengundang perhatian warga serta petugas. Petugas Polsek Panjaringan segera mengejar pelaku hingga
tertangkap tak jauh dari tempat kejadian. "Tersangka kemudian diamankan petugas," kata Kadispen.
Bertato Kupu, Namun tak jelas kronologisnya, Wawan yang memiliki ciri tato gambar kupu di lengan kanan dan kirinya itu akhirnya tewas. Jenazahnya dibawa ke Instalasi Kamar jenazah RSCM sekitar pukul 00.00 dalam keadaan luka tembak di paha kiri dan kepala. Dalam surat pengantar visum tertera tempat kejadian perkara di Jl Teluk Gong Raya.
>> Suara Pembaruan 13 Maret 1999
Jakarta, Pembaruan Seorang dari tiga tersangka pelaku penodongan di angkutan umum, tewas ditembak petugas Polres Metro Jakarta Selatan, Sabtu (13/3) dini hari. Sedangkan Musa, petugas satpam Ditjen Pajak ditembak perampok, Jumat (12/3) sore. Tersangka pelaku penodongan yang tewas ditembak itu bernama Muklis Batubara (31), warga Jalan Damai Cipete, Kebayoranbaru. Ia ditembak petugas di depan halte bus Perum Peruri, Jalan Trunojoyo, Kebayoranbaru. Keterangan yang diperoleh Pembaruan menyebutkan, tersangka bersama teman-temannya adalah kelompok penodong di atas angkutan umum sekitar Blok M. Kelompok tersebut selama ini menjadi buronon petugas. Pada lengan kanan tersangka terdapat gambar tato.
Tersangka bersama dua temannya dipergoki petugas saat akan beraksi di bus Metromini 69, trayek Blok M-Ciledug. Saat akan diringkus petugas, tersangka melakukan perlawanan dengan celurit.
Untuk melumpuhkan tersangka, petugas terpaksa melepaskan tembakan. Timah panas tersebut bersarang di dada dan dahi tersangka. Sedangkan dua tersangka pelaku lainnya, masih dalam pengejaran petugas.
Sindikat Penjahat Bus Kota >> Republika Maret 1999
JAKARTA-Setelah sering melakukan penodongan di atas bus kota,
akhirnya kelompok Iwan-sindikat pembajak bus kota- tertangkap petugas di Jl
Gatot Soebroto Jakarta Selatan kemarin. Namun hanya empat dari tujuh anggota
sindikat itu yang bisa diciduk petugas, persis usai melakukan penodongan di atas
bus Patas AC jurus Tanah Abang - Depok. Empat pria penuh
tato, Iwan [30], Achmad Zuhdi [32], Saidi [32] dan Ujang
[30] ditangguk anggota patroli bermotor Polda Metro Jaya tanpa perlawanan.
Sementara tiga anggota lainnya kabur dengan menggunakan bus kota lain yang
kebetulan lewat saat terjadi pengepungan di depan gedung Patra tersebut. Kepada
petugas, Saidi mengaku sindikatnya sering beroperasi di bus kota jurusan Grogol
- Kp Melayu, Grogol - Kp Rambutan dan TTaaanah Abang - Depok. Dari Saidi ini
petugas menyita uang Rp 30 ribu yang berupa pecahan lima ratusan. Sementara
Iwan, yang ditanyai wartawan di Mapolda Metro Jaya menolak
dinyatakan sebagai sindikat pencoleng di atas bus. "Saya
tidak tahu apa-apa," kata pria dekil penuh tato di badannya itu.
Iwan pun tak mengakui kenal dengan tiga tersangka lainnya. Namun tiga tersangka
lainnya, kepada wartawan, secara serempak menunjuk Iwanlah pimpinan
sindikattersebut
http://www.republika.co.id/9903/25/10529.htm
Polresta Malang Bekuk Wanita Pencuri Sepeda Motor >> Suara Pemabaruan 17 Mei 1999
Malang, Pembaruan Polresta Malang berhasil membekuk Yan alias Acik (29), wanita berwajah manis, dalam kasus pencurian sepeda bermotor, Minggu (16/5). Petugas Polresta Malang sehari sebelumnya, telah menguntit tersangka yang kos di sebuah rumah Jalan AR Hakim, Kota Madya Malang; ia diduga melakukan pencurian sepeda motor seorang diri. Menurut Kapolresta Malang Letkol Pol Drs Ngadino, kepada wartawan, Senin (17/5) pagi, tersangka diduga melakukan aksi pencurian sepeda motor jenis bebek lebih dari sekali.
Pada waktu yang bersamaan, jajaran Polresta Malang juga menangkap dua pencuri sepeda motor lainnya; YIS alias Sinyo (22) dan Cho (22) warga Polehan. Tersangka Cho yang tubuhnya penuh tato, dibekuk dengan tembakan pada kakinya, karena berusaha kabur saat ditangkap di kawasan Polehan. "Antara Yan, YIS dan Cho satu-sama lain tidak berkaitan. Mereka punya kelompok sendiri-sendiri yang kini masih dikejar anggota saya," kata Letkol Pol Drs Ngadino, yang didampingi Wakilnya, Mayor Pol Drs Luky S. (070)
Jakarta, Pembaruan Sebanyak sembilan orang diamankan petugas Polres Metro Jakarta Barat dalam peristiwa keributan yang terjadi di Diskotek Sydney 2.000, Jl Mangga Besar Tamansari Jakarta Barat, Minggu (12/9) malam. Kesembilan orang tersebut di antaranya berinisial, Yl (38), Asp (21), Zm (21), Rap (21), Gab (21), Sam (26) dan Hen (21). Kasatserse Polres Metro Jakarta Barat, Kapten Pol Idham Aziz yang dihubungi Pembaruan Senin (13/9) pagi menuturkan kesembilan pemuda tersebut masih dimintai keterangan, untuk dapat memastikan motif dari pengrusakan terhadap empat ruangan Diskotek Sydney tersebut. Keributan yang terjadi sekitar pukul 23.30 WIB itu menyebabkan empat ruang diskotek yang berada di lantai lima, enam, tujuh dan delapan dirusak sekitar sembilan orang pemuda dengan menggunakan besi dan senjata tajam. Dinding kaca ruangan serta kursi-kursi diskotek itu dirusak. Sehingga, para pengunjung yang sedang menikmati hingar bingarnya musik serta merta kabur menyelamatkan diri. Selain merusak empat ruangan, para pelaku juga merusak 23 mobil, empat sepeda motor yang diparkir di sekitar areal parkir diskotek, serta seorang petugas keamanan setempat mengalami luka-luka. Petugas keamanan yang menderita luka-luka, Wilson Aritonang (34), warga RT 6/RW 1 Kalibata Jakarta Selatan. Dia mengalami luka di bagian kepala dan telinganya robek. Pengrusakan tersebut diduga bermotifkan balas dendam di antara korban dengan para tersangka. Belum diketahui dengan pasti permasalahan apa yang terjadi di antara korban dengan para tersangka pelaku pengrusakan tersebut. Dari hasil penyelidikan petugas di lapangan, pengrusakan itu terjadi saat Wilson Aritonang hendak pulang ke rumahnya di kawasan Kalibata Jakarta Selatan. Ketika korban sudah berada di areal parkir gedung diskotek, sejumlah pria menghadang pelaku dan menyerangnya dengan pukulan serta senjata tajam. Mendapat serangan yang bertubi-tubi itu, pria asal Sumatera Utara tersebut berusaha melakukan perlawanan. Namun korban berhasil dilumpuhkan para tersangka. Meskipun sudah menghajar korban, para tersangka pengeroyokan itu merasa tidak puas. Selanjutnya mereka memasuki ruangan diskotek. Di antara pemuda yang sebagian memiliki tato itu naik ke lantai lima, enam, tujuh dan delapan. Dengan menggunakan besi dan senjata tajam, mereka merusak dinding kaca ruang diskotek. Pengrusakan yang terjadi dengan tiba-tiba itu membuat pengunjung dan disk jockey (DJ) menghentikan suara musik, dan mereka dengan segera meninggalkan ruangan. Usai melakukan pengrusakan di ruangan, para tersangka juga merusak mobil pengunjung di areal parkir. Kaca-kacanya dipecah, demikian juga dengan bodi mobil. Tak hanya itu, empat sepeda motor juga